YKMI Kecam Aksi Kotor Catut Nama Ulama dan Mengingatkan Tetap Boikot Produk Afiliasi Israel

Sunday, 19 May 2024
YKMI Kecam Aksi Kotor Catut Nama Ulama dan Mengingatkan Tetap Boikot Produk Afiliasi Israel
YKMI Kecam Aksi Kotor Catut Nama Ulama dan Mengingatkan Tetap Boikot Produk Afiliasi Israel


INDONESIATODAY.CO.ID -
Yayasan Konsumen Muslim Indonesia (YKMI), mengecam aksi manipulatif yang  dilakukan perusahaan terafiliasi untuk mengembalikan kondisi bisnisnya yang terpuruk akibat boikot dengan cara yang kurang etis, yakni, mencatut nama untuk kepentingan bisnis.


YKMI akhirnya membuat agenda dialog dan konferensi pers dengan tema “Melawan Aksi Kotor Catut Nama Ulama” di Kafe Tendean Mampang Jakarta Selatan, Minggu, 19 Mei 2024.


Perusahaan terafiliasi tersebut, secara mendadak memberikan banyak sumbangan untuk Palestina dan mempublikaskannya berulang, mencatut nama untuk kepentingan bisnis, menggunakan simbol-simbol agama, seperti menggunakan habib atau kyai, dan artis-artis berhijab, kemudian membuat banyak kegiatan untuk Palestina bersama  masjid-masjid terkemuka. Bahkan mereka membuat iklan yang seakan-akan adalah 100% Indonesia.


Seperti misalnya, baru- baru ini mencuat aksi pencatutan pernyataan tokoh dan ulama Indonesia Gus Nadirsyah Hosen yang sengaja dilakukan sebuah produk air minum, untuk membantah posisinya sebagai bagian produk-produk terafiliasi Israel. 


Menurut Direktur Eksekutif YKMI, Ahmad Himawan, selain tidak etis, aksi catut pernyataan tersebut tampak kotor dan menghalalkan segala cara untuk mengembalikan kepercayaan dan minat beli konsumen atas produk tersebut.


“Mencatut pernyataan yang tidak pernah diucapkan oleh ulama itu tidak etis dan cara yang kotor. YKMI mengecam tindakan tersebut,” kata Himawan dalam dialog publik yang digelar Koalisi Keadilan pada Minggu, 18 Mei 2024 pagi.


Himawan pun menilai, produk-produk terafiliasi Israel ini semakin terdesak dan terus mengalami kerugian. Sehingga, tak ayal, mereka harus melakukan segala cara untuk menetralisir persepsi sebagai produk terafiliasi Israel dan mengembalikan minat beli konsumen Indonesia.


“Karena semakin terdesak, mereka (produk terafiliasi Israel) itu semakin kalap. Main kutip dan catut pernyataan ulama dan tokoh Islam dengan seenaknya. Padahal tak pernah juga ada pernyataan yang dikeluarkan oleh ulama tersebut. Di luar hal tersebut, masih banyak lagi upaya lain yang dilakukan beberapa perusahaan yang kemudian menggunakan ulama dan artis- artis muslim.  Ini memang motifnya melakukan kebohongan dan menipu konsumen muslim. Ini jelas bisa disebut sebagai aksi pembohongan publik,” ujarnya.


Mantan aktivis HMI itu kemudian mendesak, ada sanksi yang bisa dijatuhkan kepada mereka-mereka yang sengaja mencatut dan memelintir pernyataan para ulama dan tokoh Islam. Selain sanksi hukum, Himawan mendorong adanya sanksi sosial yang diberikan kepada para pelaku pencatutan nama tersebut.


“Semestinya tidak hanya sanksi hukum (Pasal 378 KUHP). Tetapi juga sanksi sosial dengan memberi stempel bahwa produk tersebut melakukan kebohongan dan aksi manipulatif untuk mendapatkan kepercayaan konsumen. Dengan demikian, boikot akan terus dilanjutkan, dan konsumen muslim tidak lagi membeli produk genosida tersebut,” ungkapnya.


Untuk itu, Himawan kembali menegaskan agar masyarakat perlu tabayun dan tidak mudah terpengaruh oleh muslihat perusahaan zionis. YKMI pun sudah pernah merilis 10 jenis produk yang termasuk ke dalam produk-produk yang terafiliasi Israel. Selain Starbucks, Zara, Unilever, dan Coca-cola Group, Danone, Kraft Heinz, Burger King memang menjadi bagian dari 10 produk tersebut.


“YKMI sudah mengidentifikasi 10 produk genosida dengan sejumlah kriteria. Salah satu yang menjadi acuan adalah kesepuluh produk tersebut masuk dalam situs boycott.thewitness dan bdnaash. Merujuk situs tersebut, Starbukcs, Nestle dan Danone memang tercatat sebagai pendukung aksi kejahatan Israel di Palestina,” tegas dia.  


Agar aksi boikot produk genosida dapat berjalan efektif dan masif, Himawan berharap adanya kerjasama dari pihak ulama, artis-artis yang menjadi panutan masyarakat agar tidak lagi mendukung atau mempromosikan produk yang terduga terafiliasi serta  meminta semua instansi Muslim yang menyelenggarakan kegiatan keagamaan untuk tidak lagi bekerjasama atau menggunakan produk terduga terafiliasi Israel. (*)


Sumber: herald

SEBELUMNYA

Komentar

Artikel Terkait

Terkini