Martha Christina Tiahahu, Panglima Perang Perempuan Termuda di Pasukan Pattimura

INDONESIATODAY
indonesiatoday.co.id


Martha Christina Tiahahu, Panglima Perang Perempuan Termuda di Pasukan Pattimura JAKARTA - Nama Martha Christina Tiahahu , salah satu pahlawan nasional asal Maluku, belakangan mewarnai pemberitaan di media. Hal ini setelah Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan meresmikan Taman Literasi Martha Christina Tiahahu di kawasan Blok M, Jakarta Selatan.

Sebelum diresmikan sebagai taman literasi pada 18 September 2022, taman tersebut bernama Taman Martha Christina Tiahahu. Artinya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tidak mengubah nama taman tersebut, hanya merevitalisasinya dan menambah kata literasi.

"Jakarta adalah kota bagi semua. Dan karena itulah namanya Martha Christina Tiahahu. Dan ini adalah pahlawan yang usianya paling muda. Ketika meninggal usia 18 tahun di kapal. Ketika menuju pengasingan dan tidak mau diobati oleh dokter Belanda. Engggak mau dia, lebih baik meninggal. Kira-kira begitu. Anda baca beritanya. Itu menggambarkan bahwa anak muda itu memang pemberani, nyalinya besar. Dan, Martha adalah salah satu sosoknya," ungkap Anies.

Lantas, seperti apa sosok Martha Christina Tiahahu? Pahlawan nasional ini lahir pada tanggal 4 Januari 1800 di Desa Abubu, Nusa Laut, Maluku. Dia adalah anak dari Kapitan Paulus Tiahahu, salah satu pemimpin tentara rakyat Maluku.

Baca juga: Anies Resmikan Taman Literasi Martha Christina Tiahahu di Blok M

Tumbuh sebagai anak dari pemimpin tentara rakyat Maluku, membuat Martha dikenal pemberani dan konsekuen terhadap cita-cita perjuangan. Semangat pantang menyerah dan keberanian yang cukup tinggi membuat Martha dijadikan panglima perang perempuan termuda di pasukan Kapitan Pattimura saat perang melawan Belanda. Saat itu, usianya 17 tahun.

Martha tergabung dalam pasukan Kapitan Pattimura. Dia ikut berperan dalam sejumlah peristiwa penting misalnya saja dalam pertempuran merebut Benteng Duurstede dari Belanda pada 17 Mei 1817 dan ikut dalam pertempuran melawan Belanda di Pulau Saparua.

Dikutip dari laman Perpusnas, dengan rambut yang panjang terurai ke belakang serta berikat kepala sehelai kain berang (merah), Martha tetap mendampingi ayahnya dalam setiap pertempuran. Siang dan malam ia selalu hadir dan ikut dalam pembuatan kubu-kubu pertahanan. Bukan hanya mengangkat senjata, Martha juga memberi semangat kepada kaum perempuan di negeri-negeri agar ikut membantu kaum pria di setiap medan pertempuran sehingga Belanda kewalahan.

Pada 11 Oktober 1817, pasukan Belanda di bawah pimpinan Richemont bergerak ke Ulath. Pasukan ini berhasil dipukul mundur oleh pasukan rakyat. Dengan kekuatan 100 orang prajurit, Meyer beserta Richemont kembali ke Ulath. Pertempuran berkobar kembali, korban pun berjatuhan di kedua belah pihak.

Dalam pertempuran ini, Richemont tertembak mati. Meyer dan pasukannya bertahan di tanjakan negeri Ouw. Dari segala penjuru pasukan rakyat mengepung, sorak-sorai pasukan bercakalele. Di tengah keganasan pertempuran itu muncul seorang gadis remaja bercakalele menantang peluru musuh. Dia adalah Martha Christina Tiahahu.

Baru di medan ini Belanda berhadapan dengan kaum perempuan fanatik yang turut bertempur. Pertempuran semakin sengit kala sebuah peluru pasukan rakyat mengenai leher Meyer. Vermeulen Kringer mengambil alih komando setelah Meyer diangkat ke atas Kapal Eversten.

Keesokan harinya, Vermeulen Kringer memerintahkan serangan umum terhadap pasukan rakyat. Pasukan rakyat membalas serangan dengan lemparan batu. Pasukan Belanda pun menyadari bahwa persediaan peluru pasukan rakyat telah habis. Vermeulen Kringer kemudian memberi komando untuk keluar dari kubu-kubu dan kembali melancarkan serangan. Pasukan rakyat mundur dan bertahan di hutan. Seluruh negeri Ulath dan Ouw diratakan dengan tanah, semua yang ada dibakar dan dirampok habis-habisan.

Singkat cerita, Kapitan Paulus Tiahahu divonis hukum mati tembak. Martha Christina Tiahahu kemudian berjuang untuk melepaskan ayahnya dari hukuman mati. Namun, dia tidak berdaya dan meneruskan bergerilya di hutan. Dia akhirnya tertangkap dan diasingkan ke Pulau Jawa.

Di Kapal Perang Eversten, Martha Christina Tiahahu yang menolak makan dan pengobatan, meninggal dunuia. Dengan penghormatan militer, jasadnya disemayamkan ke Laut Banda menjelang 2 Januari 1818.

Untuk menghargai jasa dan pengorbanannya, Martha Christina Tiahahu dikukuhkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional oleh Pemerintah Republik Indonesia, berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 012/TK/Tahun 1969, tanggal 20 Mei 1969.

MG/Nabillah Amanda Rahmawaty

Lihat Juga: 5 Jenderal TNI yang Dimakamkan di TMP Kalibata, Terakhir Mantan Komandan Kopassus (zik)

Sumber : sindonews.com
Note:
Apabila isi berita kurang lengkap dan tidak jelas, silahkan baca selengkapnya dengan klik tautan 'Lihat artikel asli' di atas. Jika terdapat kesalahan informasi pada berita ini, silahkan hubungi kami melalui email [email protected].
Klik disini untuk mengikuti akun Google News kami agar Anda tidak ketinggalan berita menarik lainnya.
Komentar
Berita Terkait
Terpopuler Hari Ini