Heboh! Ada Rumah Tua Tionghoa Masih Berdiri di Tengah Gedung Pencakar Langit Jakarta

INDONESIATODAY
indonesiatoday.co.id


Heboh! Ada Rumah Tua Tionghoa Masih Berdiri di Tengah Gedung Pencakar Langit Jakarta

INDONESIATODAY.CO.ID - Buat kamu yang sering melintas di kawasan Jalan Gajah Mada, Glodok, Jakarta Barat, tentu enggak asing dengan bangunan yang terhimpit di antara dua gedung pencakar langit ini. 

Terlihat unik dan tak lazim, karena lokasinya seakan nyempil di antara modernisasi Ibu Kota. Memasuki bangunan seluas 2250 meter persegi dengan ciri arsitektur Tionghoa yang kental ini, terasa asri di tengah kebisingan Jakarta. Rumah tua Tionghoa di tengah gedung pecakar langit Jakarta. (Z Creators/Vivi Sanusi)

Adalah milik seorang mayor Tionghoa terakhir di Batavia bernama Mayor Khouw Kim An. Ia adalah menantu tuan tanah dan pendiri organisasi Tionghoa modern pertama di Hindia Belanda. 

Ia mendapat pangkat mayor karena mewakili etnis Tionghoa di pemerintahan Belanda tahun 1910-1942. Sebagai etnis Tionghoa yang kaya raya, ia memiliki toko beras dan bank. 

Istrinya 14 orang dengan 24 anak. Namun di sisa usianya Khouw Kim An mengalami nasib yang malang. Ia ditahan di kamp konsentrasi dan meninggal pada tahun 1945 di masa penjajahan Jepang. Rumah tua Tionghoa di tengah gedung pecakar langit Jakarta. (Z Creators/Vivi Sanusi)

Berdiri tahun 1807 bangunan cagar budaya ini di masa penjajahan Jepang pernah dipakai sebagai kantor pusat perkumpulan orang Tionghoa untuk tujuan sosial bernama Sin Ming Hui. 

Organisasi ini melayani komunitas Tionghoa yang menderita akibat perang juga kegiatan sosial lainnya seperti klinik kesehatan, pendidikan, hingga klub olahraga dan fotografi. Berdiri tahun 1948, klub fotografi ini menjadi klub tertua di Jakarta.  Rumah tua Tionghoa di tengah gedung pecakar langit Jakarta. (Z Creators/Vivi Sanusi)

Nama Sin Ming Hui lalu berganti menjadi Candra Naya pada masa pemerintahan Orde Baru. Dari perkumpulan Candra Naya inilah cikal bakal berdirinya Rumah Sakit Sumber Waras dan Universitas Tarumanegara (Untar). Rumah ini juga sempat menjadi lokasi kuliah mahasiswa Untar.

Di tahun 1970-an Candra Naya merupakan tempat pernikahan kalangan borjuis dan di tempat inilah pertama kalinya diselenggarakan pertandingan bulu tangkis internasional di Indonesia yaitu Indonesia Open. Rumah tua Tionghoa di tengah gedung pecakar langit Jakarta. (Z Creators/Vivi Sanusi)

Sempat enggak terawat, bangunan ini bukan hanya sebuah kediaman biasa namun penuh kisah sejarah rekam jejak Tionghoa di Indonesia. Dengan ruang yang detail ornamen-ornamen khas Tionghoa bercat warna emas. 

Ciri bangunan yang luas berlantai marmer di area tengah dan di bagian belakang dihiasi dengan kolam ikan koi. Tempat ini merekam jejak kejayaan masa lampau. 

Jejak imigran dari daratan Cina yang semula datang ke Tegal lalu berpindah ke Batavia ini terbuka untuk umum secara gratis.

Artikel menarik lainnya:  Kisah di Balik Rumah Adat Wologai di NTT, Dibangun Pakai Kayu Nebangnya Harus Jam 12 Malam 5 Rekomendasi Film Aksi Korea di Netflix, Cocok untuk Menghabiskan Akhir Tahun 5 Mitos Candi Prambanan yang Dipercaya, Salah Satunya Jangan Pacaran di Sini! Tempe Dibungkus Daun Pisang Kenapa Lebih Enak Ketimbang Bungkus Plastik, Ini Alasannya!

Bikin cerita serumu dan dapatkan berbagai reward menarik! Let’s join Z Creators dengan klik di sini. Z Creators

Sumber : indozone.id
Note:
Apabila isi berita kurang lengkap dan tidak jelas, silahkan baca selengkapnya dengan klik tautan 'Lihat artikel asli' di atas. Jika terdapat kesalahan informasi pada berita ini, silahkan hubungi kami melalui email [email protected].
Komentar
Menarik untuk dibaca
Terpopuler Hari Ini